Internasional16 WNI Tewas dalam Tragedi Kapal Tenggelam di Perairan Pulau Pangkor Malaysia

16 WNI Tewas dalam Tragedi Kapal Tenggelam di Perairan Pulau Pangkor Malaysia

Total 39 korban WNI berhasil ditemukan, terdiri atas 23 orang selamat dan 16 lainnya meninggal dunia. Korban meninggal terdiri dari sembilan laki-laki dan tujuh perempuan.

Duka mendalam kembali menyelimuti keluarga pekerja migran Indonesia. Operasi pencarian dan penyelamatan korban kapal tenggelam yang mengangkut puluhan warga negara Indonesia (WNI) di perairan Pulau Pangkor, Malaysia, resmi dihentikan, setelah tim SAR Malaysia tidak menemukan korban tambahan dalam beberapa hari terakhir. Badan Penegakan Maritim Malaysia (MMEA) Perak mengumumkan operasi SAR berakhir pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Badan Penegakan Maritim Malaysia Negara Bagian Perak menerima laporan pada Senin (11/5) pagi sekitar pukul 05.30 dari seorang nelayan setempat yang menemukan para korban terapung di laut dan meminta bantuan. Operasi SAR segera dilakukan pada pukul 06.00 pagi dengan mengerahkan KM GAGAH serta BENTENG 1203.

Para korban diduga berangkat dari Kisaran, Sumatera Utara, Indonesia, pada Sabtu (9/5) menuju Malaysia, dengan tujuan akhir diperkirakan meliputi Pulau Pinang, Terengganu, Selangor, dan Kuala Lumpur. Mereka adalah para pekerja migran yang mencari penghidupan di negeri jiran.

Data Korban Terkini

Total 39 korban WNI berhasil ditemukan, terdiri atas 23 orang selamat dan 16 lainnya meninggal dunia. Korban meninggal terdiri dari sembilan laki-laki dan tujuh perempuan. Seluruh jenazah dibawa ke rumah sakit di Perak untuk proses autopsi dan identifikasi.

Ke-23 WNI yang selamat terdiri dari 16 laki-laki dan 7 perempuan, berusia antara 21 hingga 48 tahun. Seluruh korban selamat telah dibawa ke Markas Operasi Pasukan Polis Marin Kampung Acheh, Perak, untuk penanganan lebih lanjut.

23 WNI yang selamat berasal dari berbagai daerah, yaitu Aceh, Banten, Kepulauan Riau, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, dan Sumatera Utara.

Operasi SAR: Hampir Sepekan di Laut

Operasi pencarian dilakukan secara intensif selama enam hari, melibatkan aset Maritim Malaysia, Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM), dan kapal nelayan lokal. Tim menyisir beberapa lokasi strategis di antaranya perairan Pulau Pangkor, Pulau Kelumpang, Pulau Sangga Kechil, dan Pulau Buloh.

MMEA Perak menyatakan bahwa informasi awal yang diperoleh pada hari pertama operasi menyebutkan jumlah korban 37 orang, namun angka tersebut diyakini tidak akurat. Identitas dan detail kapal yang digunakan hingga kini masih belum sepenuhnya terungkap.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, menyatakan KBRI Kuala Lumpur terus berkoordinasi erat dengan otoritas Malaysia terkait proses identifikasi jenazah, pendampingan terhadap para korban selamat, serta fasilitasi kekonsuleran yang diperlukan bagi para WNI terdampak dan keluarganya.

Seluruh jenazah yang ditemukan telah diserahkan kepada pihak kepolisian sebelum dibawa ke Rumah Sakit Teluk Intan dan Rumah Sakit Taiping untuk proses identifikasi dan penyelidikan.

Jalur Berbahaya yang Terus Memakan Korban

Tragedi ini bukan yang pertama. Kecelakaan kapal sering terjadi di sepanjang jalur laut antara Indonesia dan Malaysia. Banyak di antaranya melibatkan kapal kelebihan muatan yang mengangkut pekerja migran ke perkebunan, pabrik, dan lokasi konstruksi.

Kelompok hak asasi manusia memperkirakan 100.000 hingga 200.000 warga Indonesia mencoba menyeberangi laut secara berbahaya setiap tahunnya. Banyak di antara mereka diduga direkrut oleh jaringan perdagangan manusia dan menghadapi eksploitasi setelah tiba di Malaysia.

Sebagai respons, Malaysia dan Indonesia telah meluncurkan “Program M” pada November 2024, sebuah inisiatif bersama yang bertujuan memulangkan 7.200 warga Indonesia tanpa dokumen selama dua tahun, dan diharapkan berlanjut hingga akhir 2026.

Tragedi ini kembali menjadi pengingat keras atas risiko besar yang dihadapi para pekerja migran yang nekat menyeberangi lautan tanpa dokumen resmi, demi mengejar harapan yang kadang berujung malapetaka.

Populer