Ketegangan di kawasan Selat Hormuz kembali meledak dini hari ini dalam serangkaian aksi dan balasan militer yang mengancam keruntuhan gencatan senjata rapuh yang telah berlalu sejak April lalu.
Tiga ledakan terdengar di sebelah timur Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis Iran yang juga merupakan pangkalan angkatan lautnya di dekat Selat Hormuz. Seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa militer Amerika Serikat telah menembak jatuh empat drone Iran dan menyerang stasiun kontrol darat Iran di Bandar Abbas, yang dipersiapkan untuk meluncurkan drone kelima.
Washington menyebut operasi tersebut sepenuhnya bersifat defensif. “Tindakan ini terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata,” kata seorang pejabat AS kepada Reuters.
Iran Tak Tinggal Diam: Pangkalan AS di Kuwait Dihantam
Respons Iran datang dalam hitungan jam. IRGC menyatakan telah menyerang sebuah pangkalan udara AS pada pukul 04.50 waktu setempat, sekitar pukul 21.20 ET Rabu malam sebagai balasan atas serangan AS di dekat bandara Bandar Abbas.
IRGC menyatakan responnya adalah “peringatan serius” kepada AS, seraya menegaskan “agresi tidak akan dibiarkan tanpa jawaban.” Sekitar waktu bersamaan, Angkatan Darat Kuwait melaporkan sistem pertahanan udaranya sedang mencegat drone dan rudal “musuh”, meski tanpa menyebut asal serangannya secara eksplisit.
Iran juga mengeluarkan ancaman tegas: “Jika tindakan ini terulang, respons kami akan lebih tegas.”
Latar Belakang: Perang Iran yang Sudah Berlangsung 3 Bulan
Insiden ini bukan yang pertama. Konflik dimulai pada 28 Februari lalu setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran, yang mengakibatkan penutupan efektif Selat Hormuz oleh Teheran dan telah menewaskan ribuan orang serta mendorong harga energi global melonjak tajam.
Serangan Rabu ini merupakan aksi militer AS kedua dalam pekan ini di wilayah Iran. Washington mengklaim kedua serangan tersebut masih dalam batas ketentuan gencatan senjata April, namun Iran mengecam tindakan AS sebagai pelanggaran nyata atas perjanjian tersebut.
Israel pun dilaporkan membunyikan sirene tanda bahaya terkait aktivitas pesawat tak dikenal di wilayah Israel Utara, menandakan eskalasi yang kini menyentuh berbagai front sekaligus.
Negosiasi Qatar: Masih Berlangsung, tapi Rapuh
Di tengah baku tembak ini, diplomasi masih berusaha berjalan. Delegasi Iran yang dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, dan Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati terbang ke Doha, Qatar, untuk membahas isu-isu krusial dalam kemungkinan kesepakatan damai — termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz, program nuklir Iran, dan perpanjangan gencatan senjata.
Menurut sumber diplomatik Timur Tengah, Iran bersedia membersihkan ranjau dari selat dalam jangka waktu 30 hari setelah kesepakatan dicapai, setelah itu kapal dari semua negara bisa berlayar bebas. Gencatan senjata juga diusulkan diperpanjang 60 hari untuk memberi ruang bagi negosiasi program nuklir.
Sebelumnya, Presiden Trump menyebut kesepakatan damai dengan Iran yang akan membuka kembali Selat Hormuz sudah “hampir rampung dinegosiasikan” dan akan segera diumumkan, pernyataan yang kini tampak dibayangi oleh eskalasi semalam.
Harga Minyak Melonjak 5%: Dunia Cemas
Pasar global langsung bereaksi. Harga minyak yang sebelumnya turun lebih dari 5% pada Rabu, langsung berbalik naik tajam setelah laporan eskalasi ini beredar. Selat Hormuz jalur yang biasanya mengangkut sekitar 20% ekspor minyak dan gas dunia masih berada dalam kondisi terganggu dan menjadi sumber ketidakpastian terbesar bagi pasar energi global.
Krisis ini mempertaruhkan banyak hal sekaligus. Di satu sisi, gencatan senjata yang telah dicapai dengan susah payah kini di ambang runtuh. Di sisi lain, negosiasi Qatar yang menjadi harapan terakhir bagi perdamaian regional sedang berlangsung tepat saat peluru dan drone masih melayang di udara. Dunia menahan napas, apakah babak baru perang terbuka akan pecah, atau diplomasi masih bisa menang?
