Pasar obligasi global kembali bergejolak. Imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS bertenor terpanjang melonjak ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap percepatan inflasi yang memicu gelombang aksi jual (selloff) di pasar surat utang global.
Yield obligasi 30 tahun AS naik hingga empat basis poin ke angka 5,16%, menembus level tertinggi sejak Oktober 2023. Kenaikan ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah.
Perang Iran Dorong Harga Minyak
Salah satu pemicu utama lonjakan yield adalah naiknya harga minyak dunia. Presiden AS Donald Trump menyatakan kehilangan kesabaran terhadap Iran dan memperingatkan Tehran agar segera mencapai kesepakatan damai.
Minyak mentah berjangka acuan internasional, Brent, ditutup menguat lebih dari 3% ke level 109,26 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 4% ke 105,42 dolar AS per barel.
Dengan meredupnya harapan bahwa inflasi yang dipicu lonjakan energi akan segera mereda, obligasi dijual habis secara masif di AS, Jerman, Jepang, dan Inggris semuanya melonjak tajam sementara pasar saham ikut tertekan.
Data Inflasi yang Mengkhawatirkan
Tekanan di pasar obligasi juga bersumber dari data inflasi yang mengejutkan pasar dalam beberapa pekan terakhir. Indeks Harga Konsumen (CPI) mencatat inflasi 3,8% secara tahunan pada April 2026, tertinggi sejak Mei 2023.
Sementara itu, Indeks Harga Produsen (PPI) melonjak ke tingkat tahunan 6%, tertinggi sejak akhir 2022. Biaya impor pun naik 1,9% dalam sebulan, atau 4,2% secara tahunan, didorong oleh konflik di Timur Tengah yang mendongkrak harga energi.
Para analis menilai kombinasi inflasi yang bandel dan harga minyak yang tinggi telah menciptakan kondisi bagi yield 30 tahun untuk bertahan di atas 5% dalam jangka panjang.
Dampak ke Pasar Global
Gejolak ini bukan hanya fenomena Amerika. Di Inggris, yield obligasi pemerintah (gilt) 10 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2008, sementara yield gilt 30 tahun menyentuh tertinggi sejak 1998, diperparah oleh ketidakpastian politik domestik. Di Jepang yang sangat bergantung pada energi Timur Tengah, yield obligasi 10 tahun melejit ke level tertinggi sejak 1999.
Para analis menyebut investor tengah menghadapi realita tidak nyaman dari skenario “higher for longer” suku bunga tinggi dalam jangka panjang di AS, di mana inflasi yang membandel dan pertumbuhan ekonomi yang masih kuat menghalangi pelonggaran kebijakan moneter yang berarti.
Lonjakan yield berdampak langsung pada kantong masyarakat. Suku bunga KPR rata-rata 30 tahun telah naik ke 6,54%, dan Mortgage Bankers Association memproyeksikan suku bunga ini akan bertahan di kisaran 6,1%–6,3% sepanjang sisa 2026. Sementara itu, harga rata-rata BBM nasional di AS sudah menembus 4,50 dolar per galon, naik 51% sejak perang Iran dimulai.
Situasi ini menjadi ujian pertama bagi Kevin Warsh, Ketua The Fed yang baru dikonfirmasi Senat pekan lalu, yang harus menghadapi gambaran inflasi yang semakin rumit. Analis senior menyebut “suku bunga jangka panjang kini yang mengendalikan kebijakan moneter.”
Pasar kini menunggu sinyal lebih lanjut dari The Fed dalam rapat bulan Juni mendatang, yang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter AS di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian geopolitik yang belum mereda.
