EkonomiRupiah Ambruk ke Rp17.966 per Dolar AS, Terlemah di Asia

Rupiah Ambruk ke Rp17.966 per Dolar AS, Terlemah di Asia

Mata uang Garuda ditutup melemah 127,5 poin atau 0,71% ke posisi Rp17.966 per dolar AS, mendekati level psikologis Rp18.000 yang kian mengkhawatirkan para pelaku pasar

Nilai tukar rupiah terus tertekan sepanjang perdagangan Rabu (3/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 127,5 poin atau 0,71% ke posisi Rp17.966 per dolar AS, mendekati level psikologis Rp18.000 yang kian mengkhawatirkan para pelaku pasar.

Pelemahan ini sekaligus menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada hari ini. Sejumlah mata uang Asia lainnya juga tertekan: won Korea Selatan turun 1,00%, ringgit Malaysia melemah 0,79%, rupee India terkoreksi 0,56%, baht Thailand turun 0,43%, dan yuan China melemah 0,16% terhadap dolar AS.

Konflik Timur Tengah Jadi Biang Kerok

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat posisi dolar AS.

“Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia, WTI di 94,58 dolar AS per barel, kemudian Brent crude oil pun mengalami penguatan di 96,72,” kata Ibrahim.

Situasi semakin memburuk setelah konflik di Timur Tengah kembali meletus, saat Komando Pusat AS menyatakan Iran meluncurkan rudal balistik ke arah negara-negara tetangga di kawasan tersebut, sementara militer AS juga melakukan serangan di Pulau Qeshm sebagai tanggapan atas manuver Teheran.

Kebuntuan dalam perundingan antara AS dan Iran turut meningkatkan ketidakpastian di pasar global. Kenaikan harga energi berpotensi mempertahankan tekanan inflasi AS dan membuat The Fed tetap mempertahankan suku bunga tinggi.

Tekanan dari Dalam Negeri

Selain faktor global, tekanan juga datang dari dalam negeri. Surplus perdagangan Indonesia menyempit lebih dari yang diharapkan pada bulan April ke level terendah dalam enam tahun, karena impor sedikit melebihi ekspor.

Kebutuhan valas untuk pembayaran dividen dan kewajiban utang yang jatuh tempo juga menambah tekanan terhadap rupiah, ditambah kecenderungan sebagian masyarakat mengalihkan simpanan ke instrumen berbasis valas.

Bank Indonesia melalui Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, memastikan BI akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik, serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah bisa menyentuh Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat. Rupiah telah melemah 9,30% selama 12 bulan terakhir.

Populer