EkonomiBerapa Harga Bottom IHSG? Ini Prediksi Para Analis

Berapa Harga Bottom IHSG? Ini Prediksi Para Analis

Pasar modal Indonesia tengah dilanda tekanan yang belum pernah terjadi sejak era pandemi Covid-19. Investor pun bertanya: di mana sesungguhnya bottom atau titik terendah IHSG?

IHSG mengalami tekanan jual besar-besaran pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026). Indeks anjlok 4,20 persen atau 245,02 poin ke level 5.594,77.

IHSG bahkan telah terkoreksi 38 persen dari posisi puncaknya, dan pelemahan indeks saat ini lebih dalam dibandingkan saat pandemi Covid-19. Sebagai perbandingan, pada awal 2026 IHSG masih berada di kisaran 9.000-an.

Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), IHSG ditutup terkoreksi 1,7% atau 101,28 poin ke level 5.839,79 — posisi terendah IHSG sejak 66 bulan atau 5,5 tahun terakhir.

Di Mana Bottom IHSG?

Para analis dari berbagai sekuritas memberikan proyeksi yang beragam:

MNC Sekuritas memiliki pandangan paling pesimistis dalam jangka pendek. MNC Sekuritas memperkirakan IHSG masih rawan melanjutkan downtrend-nya ke rentang 5.395–5.412, sekaligus untuk menutup area gap yang terbentuk dan MA200 secara monthly. Area support IHSG diperkirakan berada pada level 5.735 dan 5.381, sedangkan level resisten ada di level 6.215 dan 6.588.

Analis Binaartha Sekuritas juga memberikan peringatan serupa. Ivan Rosanova memperingatkan jika IHSG sampai menembus batas bawah 6.053, maka tren penurunan kemungkinan besar akan berlanjut hingga ke bawah 5.911. Ia memprediksi pergerakan indeks pada level support 6.053, 5.911, 5.673, dan 5.439.

Analis independen di TradingView bahkan memproyeksikan skenario lebih dalam. Sejumlah analis teknikal menyebut IHSG berpotensi bottom di area 5.000–5.400, sebelum akhirnya melakukan rally.

Sementara itu, BNI Sekuritas melihat ada potensi rebound teknikal jangka pendek. Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, menyebutkan IHSG berpotensi short term technical rebound, dengan perkiraan support di 5.600–5.700 dan resistance di 5.900–5.930.

Kapan Bisa Rebound?

Analis menilai IHSG akan sulit berbalik melonjak atau rebound jika masih dalam masa titik terendah. “Selama IHSG masih konsisten membentuk lower low dengan black marubozu, belum terdapat peluang rebound,” ujar Alrich dari salah satu sekuritas.

Seorang analis menilai IHSG akan sulit mengulang kejayaan di level 9.000. “Bahkan jika IHSG rebound ke 7.000 pun itu masih dalam trend bearish pola channel,” katanya.

Adapun BRI Danareksa Sekuritas memangkas target IHSG 2026. Target baru IHSG ditetapkan di level 7.200, dengan skenario optimistis (bull case) di 8.600 dan skenario pesimistis (bear case) di 6.550.

Apa Penyebab Ambruknya IHSG?

BRI Danareksa Sekuritas menyoroti empat faktor utama yang saling berkaitan, salah satunya adalah risiko fiskal akibat lonjakan harga minyak. Konflik Iran dan potensi gangguan di Selat Hormuz meningkatkan harga minyak yang berdampak langsung pada perekonomian Indonesia.

Selain itu, penurunan target IHSG juga disebabkan oleh penghapusan premi aliran dana konglomerasi sebesar 40% yang sebelumnya melekat dalam model valuasi, setelah tinjauan MSCI menyatakan alasan untuk mempertahankan premi tersebut sudah tidak lagi kuat.

Saran untuk Investor

Untuk strategi investasi, saham-saham berkapitalisasi besar dengan likuiditas tinggi dan valuasi yang relatif menarik masih berpotensi menjadi pilihan utama bagi pelaku pasar. Meski demikian, investor tetap perlu bersikap hati-hati dalam mengambil posisi, menerapkan manajemen risiko yang disiplin, serta menjaga pengelolaan portofolio dengan baik di tengah kondisi pasar yang masih menantang.

Berdasarkan analisis berbagai sekuritas, bottom IHSG diperkirakan berada di kisaran 5.381–5.500, dengan skenario terburuk menyentuh area 5.000–5.400. Namun potensi technical rebound jangka pendek tetap ada, terutama jika sentimen global membaik dan tekanan rupiah mulai mereda.

Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Populer