EkonomiSampai Kapan Rupiah Terus Melemah Terhadap Dolar AS?

Sampai Kapan Rupiah Terus Melemah Terhadap Dolar AS?

Setiap hari rupiah terus mencatatkan rekor pelemahan terhadap dolar AS

Nilai tukar rupiah terus menjadi sorotan publik setelah mata uang Garuda mencatat rekor pelemahan bersejarah dalam beberapa pekan terakhir.

Banyak masyarakat yang bertanya: sampai kapan tren ini akan berlangsung?

Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

Rupiah ditutup melemah 0,46% atau 82 poin ke Rp18.049 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6/2026), menyentuh level terendah sepanjang masa. Mencetak rekor terendah setiap harinya.

Rupiah telah kehilangan sekitar 7,2% nilainya terhadap dolar sejak awal tahun 2026, menempatkannya di antara mata uang pasar berkembang yang paling lemah di dunia.

Apa Penyebabnya?

Tim riset Sinarmas Sekuritas menyebut pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Sepanjang tahun ini, rupiah telah tertekan akibat derasnya arus keluar dana asing terkait penyesuaian indeks MSCI, menyusutnya surplus perdagangan, hingga membengkaknya biaya impor energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Di sisi domestik, arus keluar modal semakin dalam setelah delapan saham lokal dikeluarkan dari indeks FTSE Russell. Cadangan devisa pun turun ke level terendah hampir dua tahun pada bulan April, karena Bank Indonesia meningkatkan intervensi di pasar.

Situasi global juga memberi tekanan besar. Konflik geopolitik di Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global, sehingga inflasi Amerika Serikat tetap tinggi dan peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil.

Akibatnya, yield US Treasury meningkat dan dolar AS menguat terhadap banyak mata uang dunia, termasuk rupiah.

Kapan Rupiah Bisa Menguat Kembali?

Di tengah tekanan yang kuat, Bank Indonesia memberikan sinyal optimisme. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi saat ini bersifat musiman dan biasanya membaik pada Juli hingga Agustus.

“Kalau kita melihat histori, rupiah memang mendapat tekanan pada periode ini, tapi akan menguat di bulan Juli dan Agustus. Untuk itu kami meyakini rupiah akan stabil dan cenderung menguat ke depan,” ucap Perry.

Faktor musiman yang menjadi penyebab tekanan saat ini antara lain meningkatnya kebutuhan pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen perusahaan, serta kebutuhan valas untuk ibadah haji.

Namun demikian, proyeksi BI tampak berat untuk dicapai dalam waktu dekat. BI memproyeksikan nilai tukar rupiah akan menguat ke kisaran Rp16.200 hingga Rp16.800 pada sepanjang tahun 2026, sementara saat ini kurs masih bertengger jauh di atas Rp18.000.

Langkah BI Menjaga Stabilitas

Stabilitas mata uang ini didukung oleh kebijakan penguatan suku bunga acuan serta pengoptimalan instrumen moneter demi meredam tekanan global sekaligus menjaga aliran modal asing masuk ke pasar domestik.

Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencatat inflow besar setelah BI menaikkan suku bunga instrumen tersebut untuk menjaga daya tarik investasi. Sepanjang April hingga awal Mei 2026, inflow SRBI mencapai lebih dari Rp75 triliun.

Pelemahan rupiah saat ini merupakan akumulasi dari tekanan global yang kompleks dan faktor musiman domestik. Tekanan terhadap rupiah mencerminkan kombinasi faktor eksternal dan domestik yang belum menunjukkan tanda mereda, menurut Sinarmas Sekuritas.

Meski begitu, Bank Indonesia tetap optimis bahwa penguatan akan terjadi pada Juli–Agustus 2026, seiring meredanya permintaan valas musiman dan membaiknya arus modal asing ke Indonesia.

Masyarakat dan pelaku usaha disarankan untuk terus memantau perkembangan pasar dan berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial yang berkaitan dengan valuta asing.

Populer