Sentimen negatif terhadap Indonesia kian menyebar luas di kalangan investor global.
Slogan “sell Indonesia” kini menjadi ungkapan yang umum terdengar di meja-meja perdagangan dunia, seiring serangkaian kebijakan kontroversial Presiden Prabowo Subianto yang dinilai mengikis kepercayaan pasar.
Investor global semakin cepat kehilangan kepercayaan terhadap Indonesia, tercermin dari bursa saham yang anjlok dengan laju paling cepat di antara negara-negara di seluruh dunia, sementara mata uang rupiah terus melemah hingga ke level terendah sepanjang sejarah.
Hanya lima bulan setelah menyentuh rekor tertinggi, indeks saham acuan Indonesia telah terjun 38% dan menjadi yang paling buruk kinerjanya tahun ini di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau oleh Bloomberg.
Rupiah telah melemah lebih dari 7%, sementara investor asing menarik miliaran dolar dari obligasi Indonesia.
Kepanikan pasar tidak terjadi dalam semalam. Selama berbulan-bulan, langkah-langkah Prabowo yang secara bertahap menggerus rambu-rambu ekonomi yang telah lama tegak di Indonesia telah memicu kegelisahan di pasar.
Mantan jenderal ini menimbulkan keresahan melalui kebijakan belanja populis, rencana untuk memperlemah independensi bank sentral, dan kebijakan agresif terhadap bisnis asing seperti Apple Inc.
Ia juga mempercepat pengesahan undang-undang yang memperluas peran militer, yang memicu protes mahasiswa di Jakarta.
Kebijakan yang paling mengguncang pasar adalah pengumuman Prabowo untuk menyatentralisasi ekspor komoditas strategis.
Dalam pidato selama 95 menit di hadapan parlemen, Prabowo menyatakan Indonesia telah kehilangan hingga $908 miliar akibat ekspor komoditas yang dijual di bawah harga seharusnya, sehingga pemerintah akan mengambil alih kontrol ekspor melalui satu perusahaan negara yang diawasi dana kekayaan negara Danantara.
Kebijakan ini akan dimulai dari minyak sawit, batubara termal, dan produk nikel, tiga komoditas di mana Indonesia adalah eksportir terbesar dunia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam merespons pengumuman tersebut, dengan penurunan kumulatif sepanjang tahun ini mencapai sekitar 27%, sementara rupiah tetap mendekati rekor terendah di atas 18.000 per dolar AS.
Bank Indonesia pun terpaksa menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% guna menstabilkan pasar.
Situasi ini memperburuk kondisi yang sudah genting.
Investor menilai Prabowo tengah mengabaikan disiplin fiskal yang telah susah payah dibangun selama bertahun-tahun.
Kepemilikan asing atas obligasi Indonesia kini hanya sedikit di atas 13% dari total pasar, turun drastis dari hampir 40% pada 2019.
Situasi ini diperparah oleh kekhawatiran para investor bahwa reformis mulai tersingkir dari lingkaran kekuasaan, yang mempertegas semua masalah ekonomi yang tengah dihadapi negara ini, termasuk tekanan tarif dari Amerika Serikat dan melemahnya permintaan Tiongkok atas bahan baku.
Kebijakan sentralisasi ekspor ini merupakan langkah paling drastis sejauh ini untuk mendanai program unggulan Prabowo yang mahal, termasuk program makan siang gratis, yang telah membebani anggaran negara sejak ia menjabat pada akhir 2024.
Pemerintah juga telah memberi sinyal akan melampaui batas defisit fiskal legal sebesar 3% dari PDB.
Kepercayaan investor kini berada di titik kritis.
Pertanyaan besarnya adalah sejauh mana pemerintah Jakarta bisa meyakinkan pasar bahwa Indonesia masih menjadi tujuan investasi yang aman di tengah gelombang kebijakan yang dianggap semakin jauh dari prinsip keterbukaan dan kehati-hatian fiskal.

