Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan hebat. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), kurs dolar AS menembus level psikologis Rp18.000 dan membawa rupiah ke posisi terlemah sepanjang sejarah.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah dibuka melemah 37 poin (0,21%) ke level Rp18.003 per dolar AS. Bahkan pada dini hari, rupiah sempat menyentuh angka Rp18.036 per dolar AS — menjadi rekor terlemah dalam sejarah nilai tukar rupiah.
Faktor Penyebab Pelemahan
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah yang terjadi terus-menerus dipengaruhi sentimen dalam negeri dan tekanan eksternal, khususnya dampak eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah kombinasi faktor global dan domestik yang mendorong investor mengalihkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman, terutama dolar AS. Tekanan tersebut telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir dan semakin memburuk pada awal Juni 2026. Bahkan sepanjang tahun 2026, rupiah telah terdepresiasi lebih dari 7 persen terhadap dolar AS.
Dampak bagi Masyarakat dan Dunia Usaha
Pelemahan rupiah juga meningkatkan biaya bahan baku industri sehingga berpotensi memicu imported inflation (inflasi impor). Dalam jangka menengah, kondisi ini dapat menekan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah, karena kenaikan harga sering kali lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan.
Sebaliknya, eksportir berpotensi memperoleh keuntungan karena pendapatan mereka dalam dolar AS akan meningkat ketika dikonversi ke rupiah.
Sejumlah analis memperkirakan pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan berfluktuasi pada kisaran Rp17.960 hingga Rp18.030 per dolar AS.
Stabilitas nilai tukar akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dunia, kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia menjaga kepercayaan investor.

