Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah Ebola yang disebabkan virus langka di Kongo dan Uganda sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) pada hari Minggu, setelah lebih dari 300 kasus suspek dan 88 kematian dilaporkan.
Per Sabtu, pihak berwenang melaporkan 8 kasus terkonfirmasi laboratorium, 246 kasus suspek, dan 80 kematian suspek di Provinsi Ituri, Kongo bagian timur. Dua kasus terkonfirmasi, termasuk satu kematian, juga terdeteksi di Kampala, Uganda, pada individu yang bepergian dari Kongo, sementara satu kasus terkonfirmasi lainnya dilaporkan dari Kinshasa.
Wabah ini melibatkan strain Bundibugyo dari Ebola, varian langka yang pertama kali diidentifikasi di Uganda pada tahun 2007. WHO menyatakan saat ini tidak ada vaksin maupun antiviral khusus yang disetujui untuk virus Bundibugyo, sehingga tantangan penanganannya jauh lebih besar dibanding strain Ebola lainnya yang sudah memiliki obat atau vaksin darurat.
WHO menyatakan tingginya persentase sampel positif, penyebaran ke Kampala dan Kinshasa, serta kelompok kematian di seluruh Ituri “semuanya menunjukkan wabah yang berpotensi jauh lebih besar dari yang saat ini terdeteksi dan dilaporkan, dengan risiko penyebaran lokal dan regional yang signifikan.”
Direktur Jenderal Africa CDC, Dr. Jean Kaseya, mengatakan deteksi yang lambat menunda respons dan memberi virus waktu untuk menyebar. “Wabah ini dimulai pada April. Sejauh ini, kita tidak mengetahui kasus indeksnya. Artinya kita tidak tahu seberapa besar skala wabah ini,” kata Kaseya.
WHO menyatakan wabah ini tidak memenuhi kriteria darurat pandemi, namun negara-negara tetangga berisiko tinggi mengalami penyebaran lebih lanjut. WHO mengimbau negara-negara untuk mengaktifkan mekanisme manajemen bencana nasional, melakukan skrining lintas batas, serta tidak menutup perbatasan atau membatasi perjalanan dan perdagangan, karena hal itu justru dapat mendorong pergerakan melalui jalur yang tidak terpantau.
