Kisah yang nyaris sempurna itu berakhir dengan kesedihan mendalam. Impian Max Verstappen meraih kemenangan di Nürburgring 24 Hours pupus setelah mobilnya mengalami masalah driveshaft ketika tinggal tiga jam tersisa menjelang garis finish.
Sang juara dunia F1 empat kali itu sudah begitu dekat dengan kemenangan bersejarah di debut pertamanya dalam balapan ketahanan 24 jam yang legendaris itu.
Selama hampir 21 jam penuh, mobil #3 Mercedes-AMG Team Verstappen Racing melakukan segalanya dengan nyaris sempurna. Verstappen tampil cepat, tim bekerja tajam, dan mobil memiliki kecepatan yang dibutuhkan. Kisahnya hampir terlalu indah: seorang juara dunia F1 berjuang meraih kemenangan penuh di debut Nürburgring 24-nya.
Antara pukul 09.00 hingga 11.30, mobil #3 bahkan berhasil memperlebar keunggulan hingga lebih dari 30 detik atas Mercedes #80 yang menjadi pesaing terdekat mereka. Kemenangan tampak sudah di genggaman.
Namun nasib berkata lain. Sekitar empat jam menjelang finish, kerusakan driveshaft menghantam Mercedes-AMG GT3 #3 milik Verstappen Racing. Masalah tersebut akhirnya memaksa tim untuk retire, menyerahkan kemenangan kepada kru Mercedes #80 dengan cara yang sungguh menyakitkan bagi Verstappen Racing.
Kronologi Kerusakan
Kepala Customer Racing Mercedes-AMG Motorsport, Stefan Wendl, menjelaskan bahwa masalah bermula sesaat setelah pergantian pembalap dari Verstappen ke Juncadella, ketika pembalap Spanyol itu melaporkan kegagalan ABS di lap keluarnya. Tim segera menduga ada masalah kelistrikan dan mencoba melakukan reset, yang awalnya memungkinkan mobil melanjutkan tanpa kehilangan waktu signifikan. Namun pada lap berikutnya, Juncadella kembali mengalami masalah.
Mobil #3 Mercedes akhirnya didorong masuk ke garasi dengan roda kanan belakang dilepas, dan mekanik bekerja keras dalam suasana panik. Juncadella yang tampak sangat kecewa awalnya tetap duduk di dalam mobil.
Kemenangan akhirnya jatuh ke tangan mobil #80 Winward Racing dengan pembalap Maro Engel, Luca Stolz, Fabian Schiller, dan Maxime Martin — menandai kemenangan pertama Mercedes di balapan ini sejak 2016.
Meski gagal, Verstappen menegaskan pengalaman ini luar biasa berharga. “Rasanya luar biasa,” kata Max usai sesinya Minggu pagi saat tim masih memimpin. “Kembali ke siang hari, berusaha tetap aman sambil mempertahankan kecepatan yang baik dan menghindari masalah. Semuanya terasa baik, mobil bekerja dengan sangat baik.”
Soal balapan GT3, ia menyatakan: “Kompetisi, gaya balapan ketahanan bersama rekan setim. Balapan 24 jam, apalagi di sini, sangat luar biasa menantang. Semua kombinasi itu.”
Ketika ditanya apakah ia akan kembali tahun depan, Verstappen menjawab: “Saya pasti akan mencoba, tapi itu juga bergantung pada kalender saya.”
Keikutsertaan Verstappen di Nürburgring terjadi di tengah musim Formula 1 yang berat baginya. Juara dunia empat kali ini sedang mempertimbangkan langkahnya ke depan setelah merasa kurang bersemangat dengan regulasi baru musim ini, yang melibatkan pembagian tenaga 50-50 antara energi pembakaran dan listrik. Verstappen kini tertinggal 74 poin dari pemimpin klasemen, Kimi Antonelli dari Mercedes.
Spekulasi pun bermunculan soal masa depannya. Mantan pembalap F1, Ralf Schumacher, mempertanyakan apakah Verstappen akan cocok dengan Ferrari jika ia memutuskan hengkang dari Red Bull. Schumacher justru menilai Mercedes lebih cocok menjadi pelabuhan baru bagi pembalap berusia 28 tahun itu.
Terlepas dari drama di Nürburgring, debut Verstappen dalam balapan ketahanan ini tetap meninggalkan kesan mendalam — ia membuktikan diri mampu bersaing di level tertinggi bahkan di luar arena Formula 1. Kisah yang belum selesai, dan Nürburgring pun tampaknya belum selesai dengan Max Verstappen.
