Crystal Palace meraih trofi Eropa pertama dalam sejarah mereka setelah mengalahkan Rayo Vallecano 1-0 dalam final UEFA Conference League yang digelar di Red Bull Arena, Leipzig, pada 27 Mei 2026.
Gol tunggal penentu dicetak Jean-Philippe Mateta pada menit ke-50, memanfaatkan bola rebound di dalam kotak penalti untuk membawa Palace unggul dan tidak pernah melepaskan keunggulan itu hingga peluit akhir.
Kemenangan ini bukan sekadar trofi, ini adalah pembuktian bahwa klub-klub “kelas menengah” Eropa pun mampu menulis kisah yang luar biasa di pentas kontinental.
Dua Klub, Satu Cerita yang Luar Biasa
Final ini sejak awal sudah menjadi pertandingan yang paling tidak terduga dalam sejarah Conference League.
Crystal Palace menghabiskan €145 juta untuk belanja pemain musim ini, sementara Rayo Vallecano hanya menginvestasikan €7,1 juta, salah satu kesenjangan anggaran paling mencolok dalam sejarah final Eropa.
Rayo Vallecano menempati peringkat ke-92 dalam koefisien klub UEFA, menjadikan perjalanan mereka ke final sebagai salah satu pencapaian paling mengejutkan dalam sejarah kompetisi ini.
Selain musim ini, satu-satunya penampilan Eropa Rayo Vallecano sebelumnya adalah di perempat final Piala UEFA 2000-01, sementara Crystal Palace sebelumnya hanya pernah tampil di Piala Intertoto 1998.
Jalannya Pertandingan
Babak pertama berjalan dengan beberapa peluang di kedua sisi. Ismaïla Sarr mencoba peruntungan dari dalam kotak penalti namun diblok, sementara Rayo sempat mengancam melalui Pathé Ciss dan Alemão namun keduanya meleset dari sasaran.
Babak kedua menjadi milik Palace. Mateta memanfaatkan situasi kacau di depan gawang untuk mencetak gol penentu pada menit ke-50. Rayo memang mulai menekan di menit-menit akhir, namun Palace yang solid secara defensif tidak memberi satu pun peluang nyata.
Maxence Lacroix dan Mitchell tampil heroik dalam beberapa momen krusial, sementara Dean Henderson hanya menghadapi satu tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan.
Henderson Angkat Trofi, Wharton Man of the Match
Dua nama menjadi sorotan utama setelah peluit akhir.
Kapten Dean Henderson mengangkat trofi Conference League di hadapan ribuan pendukung Palace yang memadati Leipzig — sebuah momen yang akan dikenang seumur hidup bagi seluruh civitas Crystal Palace.
Adam Wharton dinobatkan sebagai Man of the Match atas dominasinya di lini tengah sepanjang pertandingan, meski sempat diragukan bisa tampil karena masalah cedera menjelang final.
Glasner Pensiun dengan Cara Terbaik
Kemenangan ini sekaligus menjadi perpisahan sempurna bagi pelatih Oliver Glasner yang meninggalkan Crystal Palace setelah lebih dari dua tahun membesut tim London Selatan itu.
Dalam masa kepelatihannya, Glasner mengubah wajah Crystal Palace secara dramatis, menambahkan gelar FA Cup 2024/25 dan Community Shield 2025 sebelum trofi Eropa ini, menjadikan Palace klub yang meraih lebih banyak trofi dalam dua tahun terakhir dibanding 120 tahun sebelumnya.
Pencapaian ini semakin luar biasa mengingat berbagai rintangan yang dihadapi selama perjalanan, mulai dari sanksi UEFA hingga penjualan sejumlah pemain kunci.
Crystal Palace menjadi tim ketiga asal Inggris yang memenangkan trofi Eropa pada musim pertama mereka di kompetisi besar, mengikuti jejak West Ham United pada 1964-65 dan Newcastle United pada 1968-69.
Mereka juga menjadi tim pertama yang memenangkan trofi pada kampanye pertama mereka di kompetisi Eropa besar sejak KV Mechelen meraih Piala Winners pada 1988.
Menariknya, Palace meraih trofi ini meski hanya finis di peringkat ke-15 Premier League musim ini, pencapaian terendah kedua sepanjang sejarah bagi tim yang memenangkan trofi Eropa besar, setelah Tottenham Hotspur musim lalu yang finis ke-17 namun menjuarai Europa League.
Tiga dari lima edisi pertama Conference League kini telah dimenangkan oleh klub Inggris, menyusul West Ham pada 2022-23 dan Chelsea pada 2024-25. Musim depan, Crystal Palace akan berlaga di Europa League sebagai hadiah atas trofi bersejarah ini.
