Frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan publik. Berdasarkan catatan Republika, Presiden RI telah melakukan kunjungan ke luar negeri sebanyak 53 kali sejak dilantik pada Oktober 2024. Lawatan kenegaraan terakhir dilakukan ke Paris untuk menemui Presiden Emmanuel Macron pada 26–29 Mei 2026.
Rata-rata dalam 20 bulan terakhir masa jabatannya, Presiden melakukan kunjungan dua hingga tiga kali per bulan. Prancis dan Malaysia tercatat sebagai negara yang paling sering dikunjungi, masing-masing sebanyak empat kali.
Khusus 2026: Sudah Lebih dari Belasan Kunjungan
Hingga April 2026 saja, Prabowo telah melakukan sedikitnya 9 kunjungan luar negeri, termasuk ke Inggris, Swiss, Prancis, Amerika Serikat, Yordania, Uni Emirat Arab, Jepang, dan Korea Selatan, serta menghadiri forum internasional seperti World Economic Forum di Davos.
Kunjungan terus berlanjut hingga akhir Mei 2026. Di akhir Mei 2026, Presiden Prabowo mengunjungi tiga negara Eropa sekaligus, yaitu Prancis, Austria, dan Hungaria. Sebelumnya, Prabowo tercatat sudah tiga kali mengunjungi Prancis sepanjang 2026 saja, sebuah fakta yang turut menjadi pertanyaan dari berbagai kalangan politik, termasuk PDI Perjuangan.
Estimasi Biaya: Mendekati Rp1 Triliun Sejak Menjabat
Berdasarkan estimasi, satu kali kunjungan luar negeri presiden dapat menghabiskan sekitar Rp20 miliar, yang mencakup operasional pesawat kepresidenan, akomodasi, pengamanan Paspampres, serta kebutuhan delegasi. Dengan total 48 kunjungan hingga Maret 2026, perkiraan anggaran yang terserap mencapai sekitar Rp960 miliar.
Angka kumulatif 49 kunjungan diperkirakan mendekati Rp1 triliun, jumlah yang belum pernah diumumkan secara resmi oleh pemerintah.
Seskab: Kelebihan Biaya Ditanggung Pribadi Prabowo
Merespons berbagai kritik, termasuk dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memberikan klarifikasi resmi pada 1 Juni 2026.
“Ini sudah dijelaskan beberapa kali. Jadi segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,” kata Teddy dalam video yang diunggah melalui akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet.
Teddy juga menegaskan bahwa jumlah rombongan yang mendampingi Presiden telah berkurang signifikan. Pada era pemerintahan sebelumnya, delegasi dalam satu kunjungan bisa mencapai lebih dari 120 orang, sedangkan di era Prabowo hanya sekitar 40 hingga 50 orang.
Namun, penjelasan Seskab itu justru memicu desakan publik agar pemerintah lebih transparan mengenai anggaran perjalanan dinas. Sejumlah netizen menilai bahwa pengurangan jumlah rombongan belum tentu berdampak signifikan jika frekuensi kunjungan ke luar negeri meningkat berkali-kali lipat.
Ironi di Tengah Kebijakan Efisiensi
Pada 22 Januari 2025, Presiden Prabowo menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 yang memangkas perjalanan dinas pejabat hingga 50% sebagai bagian dari efisiensi anggaran Rp306,6 triliun. Namun, dalam 15 bulan masa pemerintahannya, Prabowo sendiri tercatat melakukan lebih dari 49 safari ke 28 negara — hampir dua kali lipat dibanding lawatan Presiden Joko Widodo pada periode yang hampir sama.
Setidaknya Prabowo menghabiskan sekitar 95–112 hari di luar negeri, setara empat bulan penuh hari kerja tanpa libur. Situasi ini memunculkan kritik, terutama di tengah kondisi kesulitan ekonomi dan kampanye efisiensi anggaran pemerintah.
