Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatat rekor terlemah baru, mendekati level 17.600 per dolar. Penurunan ini terjadi di tengah berbagai tekanan global dan domestik, memicu perhatian publik serta kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Menurut data yang beredar, rupiah telah melemah lebih dari 4% sejak awal tahun. Faktor utama yang disebutkan meliputi, Kebijakan suku bunga The Fed yang masih tinggi, risiko geopolitik global dan pengeluaran domestik yang besar, termasuk program makan siang gratis yang mendorong defisit anggaran mendekati batas maksimal.
Bank Indonesia (BI) terus berupaya menstabilkan pasar, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal I dilaporkan mencapai 5,6%, yang menjadi salah satu argumen pendukung pemerintah.
Di tengah pelemahan rupiah, Presiden Prabowo Subianto memberikan pernyataan yang langsung menjadi sorotan publik. Saat berpidato pada peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Prabowo mengatakan:
“Rupiah begini, dolar begitu. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?”
Pernyataan ini disampaikan sambil menunjuk Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan disambut tawa hadirin. Video pidato tersebut cepat menyebar di media sosial dan menjadi topik trending.
Banyak netizen mengkritik pernyataan tersebut sebagai respons yang dianggap kurang sensitif terhadap dampak ekonomi riil. Kritik menyebutkan bahwa meski masyarakat desa tidak langsung menggunakan dolar, kenaikan harga barang impor seperti kedelai (bahan baku tempe) dan kebutuhan pokok lainnya tetap membebani daya beli masyarakat luas.
Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, inflasi, dan beban utang luar negeri. Di sisi lain, bagi eksportir, nilai tukar yang lemah bisa menjadi peluang daya saing. Namun, di tengah program-program ambisius pemerintahan Prabowo, stabilitas mata uang menjadi salah satu tantangan utama yang harus dihadapi.
