EkonomiRupiah Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Terendah Sepanjang Sejarah

Rupiah Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Terendah Sepanjang Sejarah

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 115 poin atau 0,66 persen ke level Rp 17.529 per dolar AS. Posisi ini merupakan level terendah penutupan kurs rupiah terhadap dolar AS sepanjang sejarah alias all time low (ATL)

Nilai tukar rupiah mencatat sejarah kelam pada perdagangan hari ini. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (12/5/2026) dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 115 poin atau 0,66 persen ke level Rp 17.529 per dolar AS. Posisi ini merupakan level terendah penutupan kurs rupiah terhadap dolar AS sepanjang sejarah alias all time low (ATL). Sementara kurs JISDOR BI hari ini berada di posisi Rp 17.514 per dolar AS, melemah 99 poin dibandingkan kemarin pada level 17.415.

Pelemahan ini bahkan lebih dalam jika dibandingkan titik terendah saat Krisis Moneter 1998 (Rp 16.650) dan masa pandemi Covid-19 (Rp 16.575).

Penyebab: “Badai Sempurna” Global dan Domestik

Pengamat komoditas Sutopo Widodo menilai kondisi ini sebagai refleksi dari “badai sempurna” yang menggabungkan eskalasi geopolitik global dan tekanan fiskal domestik. Menurut dia, penolakan proposal damai oleh Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran telah mendorong lonjakan harga energi global dan membuat inflasi bertahan tinggi.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, tekanan terhadap rupiah meningkat seiring eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan peningkatan ketidakpastian global.

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga datang dari terkurasnya cadangan devisa selama empat bulan berturut-turut dan besarnya utang jatuh tempo pemerintah. Situasi itu dinilai memicu defisit kepercayaan investor sehingga arus modal keluar dari pasar obligasi domestik sulit dibendung, meski pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di level 5,61%.

Ancaman PHK dan Kenaikan Harga

Anjloknya rupiah terhadap dolar AS ikut mengerek biaya impor sejumlah komoditas dan bahan baku strategis, mulai dari produk elektronik hingga komoditas pangan seperti kedelai, pupuk, dan gandum. Lonjakan harga barang-barang tersebut dinilai dapat memaksa perusahaan melakukan efisiensi besar-besaran demi mempertahankan operasional usaha.

Pelemahan rupiah tersebut juga memunculkan kekhawatiran terhadap risiko kenaikan harga BBM, inflasi, hingga tekanan baru terhadap daya beli masyarakat. Konflik Timur Tengah yang mendorong harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat apabila berlangsung berkepanjangan.

Respons Pemerintah dan BI

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan mulai mengaktifkan sejumlah instrumen stabilisasi pasar mulai Rabu (13/5/2026), salah satunya melalui intervensi di pasar obligasi negara atau Surat Berharga Negara (SBN). “Kita akan mulai membantu besok mungkin dengan masuk ke bond market,” ujar Purbaya.

Purbaya memastikan beban subsidi pemerintah masih bisa ditangani. Dalam hitungannya, sudah memuat angka nilai tukar lebih tinggi dari asumsi makro APBN 2026 yang sebesar Rp 16.500 per dolar AS. “APBN-nya masih relatif aman,” ungkapnya.

Bukan Krisis 1998, Tapi Tetap Perlu Waspada

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai kondisi rupiah saat ini tidak bisa langsung disamakan dengan situasi krisis 1998 meskipun berada di level psikologis yang tinggi. Sebab, fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibanding periode krisis moneter, baik dari sisi utang luar negeri pemerintah maupun cadangan devisa yang masih kuat. Berdasarkan data Bank Indonesia, utang luar negeri Indonesia masih terjaga di level 437,9 miliar dolar AS pada Februari 2026, sedangkan cadangan devisa RI masih di posisi 146,2 miliar dolar AS pada April 2026.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah belum mencapai titik akhir dan masih berpotensi berlanjut hingga ke level Rp 18.000 per dolar AS.

Populer