Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk dalam pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, terseret oleh dua tekanan besar sekaligus — pengumuman rebalancing indeks MSCI yang mengejutkan pasar dan lonjakan angka inflasi Amerika Serikat.
IHSG ditutup melemah di level 6.723,32 atau turun sebesar 135,6 poin (1,98 persen) pada akhir sesi II. Sejak awal perdagangan, indeks sudah bergerak di zona merah dan sempat menyentuh posisi terendah di level 6.705 sebelum akhirnya ditutup melemah.
Hantaman MSCI
Pemicu utama kejatuhan adalah pengumuman hasil quarterly review MSCI periode Mei 2026 yang dirilis sehari sebelumnya. MSCI memutuskan untuk mengeluarkan total 19 saham asal Indonesia dari indeks global mereka — sebuah keputusan yang dinilai jauh di luar ekspektasi pasar modal.
Berdasarkan MSCI May 2026 Index Review, tidak ada tambahan saham Indonesia baru dalam MSCI Global Standard Index. Sebaliknya, MSCI menghapus enam saham Indonesia dari indeks tersebut, yakni AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT.
Dampaknya langsung terasa sejak pembukaan. Dalam lima menit pertama perdagangan, total 9,75 miliar saham langsung diperdagangkan dengan nilai mencapai Rp 2,63 triliun.
MSCI menerapkan kriteria ketat mengenai konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi (High Shareholding Concentration/HSC), yang berisiko menurunkan peringkat atau bobot saham-saham berkapitalisasi besar di Indonesia yang memiliki free float terbatas. Akibatnya, pengumuman MSCI ini menyebabkan aliran modal keluar yang signifikan, yang kemudian menekan nilai tukar rupiah.
Tekanan dari Wall Street dan Rupiah
Selain sentimen MSCI, tekanan datang dari data ekonomi Amerika Serikat. Inflasi tahunan Amerika Serikat dilaporkan melonjak menjadi 3,8 persen, melampaui angka sebelumnya yang sebesar 3,3 persen dan di atas ekspektasi pasar. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Tekanan juga datang dari pelemahan rupiah. Penurunan tersebut disertai aksi jual bersih investor asing sebesar Rp 799 miliar, dengan saham yang paling banyak dilepas asing yakni ANTM, BMRI, CUAN, DSSA, dan BBRI.
Mayoritas sektor turut mengalami pelemahan, dengan sektor bahan baku merosot paling dalam 3,86 persen, diikuti sektor infrastruktur turun 3,05 persen, sektor siklikal melemah 2,04 persen, sektor teknologi merosot 1,01 persen, dan sektor kesehatan turun 0,91 persen.
Dari jajaran saham LQ45, pelemahan dipimpin oleh CUAN yang terkoreksi 10,05 persen ke Rp 850, AMMN turun 9,09 persen ke Rp 3.700, dan BRPT turun 8,77 persen ke Rp 2.080.
Kapitalisasi Pasar Menguap Rp 581 Triliun
Secara mingguan, kerugian terasa lebih berat. IHSG parkir di zona merah dengan turun 3,53 persen ke level 6.723,32 sepanjang perdagangan pekan ini, 11 hingga 13 Mei 2026. Kapitalisasi pasar Bursa juga tercatat turun Rp 581 triliun menjadi Rp 11.825 triliun dari Rp 12.406 triliun pada pekan sebelumnya.
Perubahan indeks MSCI tersebut mulai berlaku setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026. Pelaku pasar kini menantikan apakah IHSG mampu rebound atau tekanan berlanjut menjelang efektifnya perubahan indeks tersebut.
