HiburanSinopsis Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2026)

Sinopsis Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2026)

JudulPesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita
SutradaraDandhy Dwi Laksono & Cypri Paju Dale
ProduserVictor Mambor
GenreDokumenter Investigatif
Durasi±95 menit
Tayang Perdana12 April 2026, Taman Ismail Marzuki
ProduksiWatchDoc, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, Pusaka Bentala Rakyat, Ekspedisi Indonesia Baru

Latar Cerita

Film Pesta Babi menceritakan kehidupan masyarakat adat Papua di tengah proyek strategis nasional. Dokumenter ini menyoroti pembukaan kawasan hutan untuk proyek pangan dan industri bioenergi dalam skala besar.

Film ini berfokus pada kondisi masyarakat adat di Papua Selatan, khususnya di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Sumber ceritanya berasal dari hasil investigasi lapangan, wawancara dengan masyarakat adat Marind, Yei, Awyu, dan Muyu, serta dokumentasi kondisi lingkungan yang mengalami perubahan akibat pembukaan lahan besar-besaran.

Isi & Alur Dokumenter

Cerita dibuka dengan ritual adat yang memperlihatkan simbol perlawanan masyarakat terhadap pembukaan hutan dan proyek industri di wilayah mereka. Sepanjang film, penonton diperlihatkan dampak ekspansi lahan terhadap lingkungan dan kehidupan warga lokal — mulai dari hilangnya hutan adat, ancaman terhadap sumber pangan tradisional, hingga kekhawatiran masyarakat atas masa depan generasi mereka.

Film ini menyoroti beberapa isu utama: hilangnya ribuan hektar hutan sagu dan hutan adat yang dibuka untuk proyek bioetanol dan ketahanan pangan; konflik lahan di mana masyarakat adat merasa tanah leluhur mereka dirampas tanpa kompensasi layak; dugaan militerisasi dalam pengamanan proyek-proyek investasi di Papua; serta perlawanan damai warga adat yang memasang “salib merah” sebagai simbol penolakan terhadap penguasaan lahan oleh perusahaan.

Dengan narasi yang lugas, Dandhy Laksono memperlihatkan bagaimana masyarakat adat menghadapi tekanan dari aparat bersenjata, perusahaan besar, dan kebijakan negara yang seringkali tidak berpihak pada mereka. Dokumenter ini menjadi suara bagi mereka yang selama ini jarang terdengar di ruang publik nasional.

Film ini memperlihatkan kontras antara ritual adat pesta babi yang penuh makna dengan pembabatan hutan yang dilakukan secara sistematis oleh perusahaan perkebunan industri. Babi dalam tradisi Papua bukan sekadar hewan ternak, melainkan bagian dari sistem sosial, ekonomi, dan spiritual — ia menjadi penanda status, alat tukar dalam ritual, sekaligus simbol keberlangsungan hidup. Ketika hutan sagu dan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat adat hilang, maka makna pesta babi pun ikut terancam.

Berdasarkan keterangan resmi Ekspedisi Indonesia Baru, Pesta Babi adalah film dokumenter yang merekam perjuangan masyarakat adat Papua mempertahankan tanah leluhur dari ekspansi proyek industri raksasa atas nama ketahanan pangan dan transisi energi, di tengah bayang-bayang militerisme hingga separatisme.

Dokumenter ini mengingatkan bahwa pembangunan yang tidak berpihak pada masyarakat adat akan selalu meninggalkan luka, dan bahwa suara mereka harus menjadi bagian dari percakapan nasional tentang masa depan Indonesia.

Cara Menonton Film Pesta Babi

Per 8 Mei 2026, film Pesta Babi disebut sudah diputar di lebih dari 500 titik nobar di Indonesia melalui program “Musim Nobar”, di mana komunitas, mahasiswa, hingga warga bisa mengadakan pemutaran film secara mandiri dengan mendaftarkan kegiatan melalui formulir resmi. Film ini belum tersedia di platform streaming umum seperti Netflix atau Vidio.

Populer